Showing posts with label shalat. Show all posts
Showing posts with label shalat. Show all posts

Thursday, January 5, 2017

Adab Ketika Mendengarkan Adzan

video

5 Adab ketika mendengarkan adzan
(Sumber: Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta'ala)

1. Mengucapkan seperti apa yg diucapkan oleh muadzin
Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya; "Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin..." (HR. Muslim)

2. Bersalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi Wa Sallam; Allahumma sholli 'ala Muhammad atau membaca shalawat Ibrahimiyah seperti yang dibaca saat tasyahud.
Rosulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya; "Kemudian bershalawatlah untukku. Karena siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya (memberi ampunan kepadanya) sebanyak sepuluh kali." (HR. Muslim)

3. Meminta kepada Allah untuk Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam wasilah dan keutamaan. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ta'ala anhu, Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya; "Barang siapa mengucapkan setelah mendengar adzan,

اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةْ
ALLAHUMMA ROBBAHAADZIHID DA’WATITTAAMMAH
Ya Allah, Rabb pemilik dakwah yang sempurna ini (dakwah tauhid),

وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ
WASH-SHOLAATIL QOOIMAH
pemilik shalat yang ditegakkan,

آتِ مُحَمَّدًا نِ الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ
AATI MU_HAMMADAN NIL WASIILATA WAL FADLIILAH
berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah (kedudukan yang tinggi), dan fadilah (kedudukan lain yang mulia).

وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا نِ الَّذِى وَعَدْتَهُ
WAB’ATSHU MAQOOMAN MA_HMUUDANIL LADZII WA ‘ADTAH
Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati maqom (kedudukan) terpuji yang telah Engkau janjikan padanya.

Barang siapa yang mengucapkan do'a ini, maka dia akan mendapatkan syafa'atku kelak."

رواه البخاري
(الأذكار ص38)
HR. Al-Bukhori
(kitab Al-Adzkaar An-Nawawy halaman 38)

4. Membaca;
Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammadan 'abduhu wa rasuluh radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa

Artinya;
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha Allah sebagai Rabbku, Muhammad sebagai rosul, dan Islam sebagai agama.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Sa'ad bin Abi Waqqash Radhiallahu Ta'ala 'anhu, Rosulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya;

"Siapa yang mengucapkan setelah mendengar adzan, Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammadan 'abduhu wa rasuluh radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa

barang siapa membacanya maka dosanya akan diampuni." (HR. Muslim)

5. Memanjatkan doa sesuai dengan yang diinginkan.
Dari 'Abdullah bin 'Amr Radhiallahu Ta'ala 'an, bahwa seseorang pernah berkata; "wahai Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam sesunguhnya muadzin selalu mengungguli kami dalam pahala amalan." Rasulullah Shallallahu `alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya; "Ucapkanlah sebagaimana disebutkan oleh muadzin tersebut. Lalu jika sudah selesai kumandang adzan, berdoalah, maka akan diijabahi (dikabulkan)." (HR. Abu Daud)

Sumber:
https://www.facebook.com/Yufid.TV/videos/1302224599851668/
https://www.youtube.com/watch?v=WoA546TM74U&feature=youtu.be
https://rumaysho.com/10008-5-amalan-ketika-mendengar-azan.html

Tuesday, April 14, 2015

Pengaruh Warna Alam Bagi Manusia Sesuai Dengan Waktu Shalat

Shalat merupakan rukun Islam yang ke-2 yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim. Shalat wajib dilakukan 5 kali dalam sehari semalam, ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat An-Nisa' ayat 103:

"Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." [QS. An-Nisa' ayat 103]

Dan shalat yang baik adalah jika dilakukan diawal waktu, kenapa? Jawaban pertanyaan itu sangat terkait dengan rahasia di balik waktu-waktu di mana kita diperintahkan untuk mengerjakan shalat-shalat tersebut.

Rahasia Shalat dan Perubahan Warna Alam

Rahasia ini terungkap berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para pakar dibidangnya. Tahukah Anda bahwa setiap peralihan waktu shalat sebenarnya bersamaan dengan terjadinya perubahan energi alam yang ternyata dapat diukur serta dirasakan melalui prubahan warna alam?

Jika Anda adalah orang yang akrab dengan dunia fotografi, mungkin perubahan warna alam bukanlah hal yang asing bagi Anda bukan? Manusia pada masa sekarang telah menyadari akan pentingnya tenaga alam hingga banyak orang yang menciptakan kiat-kiat meditasi, Yoga, senam Tai-chi dan lain-lain.

Namun, kita umat Islam tidak perlu melakukan hal-hal yang demikian. Karena dalam gerakan-gerakan shalat juga memiliki manfaat yang sama, selain itu ketika shalat tubuh juga mampu menyerap energi alam. Hal ini berkaitan dengan waktu-waktu shalat tersebut. Dalam bukunya yang berjudul 'The Science of Shalat', Prof. Riset. DR. Ir. H. Osly Rachman, MS. menjelaskan:

Subuh


Pada waktu subuh alam berada pada spektrum warna biru muda yang bersesuaian dengan frekuensi tiroid (kelenjar gondok). Dalam dunia fisiologi, tiroid dipercaya memiliki pengaruh terhadap sistem metabolisme manusia.

Selain itum\, warna biru muda juga memiliki rahasia tersendiri yang berkaitan dengan rezeki serta cara berkomunikasi. Masalah rezeki dan komunikasi biasanya dialami oleh mereka yang sering bangun siang atau masih tidur pulas pada waktu subuh.

Hal ini terjadi karena tiroid tidak mampu menyerap energi alam biru muda karena ruh dan tubuh masih terlelap dalam tidur. Pada waktu adzan subuh berkumandang, energi ini berada di tingkat optimum sehingga apabila kita melakukan shalat subuh maka tubuh juga menyerap energi biru muda dari alam secara bersamaan.

Dzuhur


Pada waktu Dzuhur, warna alam akan berubah menguning yang secara keseluruhan akan berpengaruh terhadap perut dan seluruh sistem pencernaan manusia. Warna kuning ini juga memiliki pengaruh terhadap hati dan keceriaan. 

Jadi, mereka yang selalu ketinggalan atau melewatkan shalat zhuhur berulang-ulang kali akan menghadapi masalah dalam sistem pencernaannya serta berkurang keceriaannya.

Ashar


Warna alam akan berubah menjadi orange pada saat waktu Ashar. Hal ini memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap kondisi prostat, uterus, ovary, testis, dan sistem reproduksi secara keseluruhan.

Warna ini juga dipercaya berpengaruh terhadap kreatifitas seseorang, orang yang kerap tertinggal waktu ashar akan menurun daya kreativitasnya. Di samping itu, organ-organ reproduksi juga akan kehilangan energi positif dari warna alam tersebut.

Maghtib


Memasuki waktu Maghrib, warna alam akan berubah menjadi merah, mungkin kita pernag mendengar nasihat orangtua agar tidak berada diluar rumah pada waktu Maghrib, anggapan ini memang ada benarnya.

Karena saat maghrib tiba, spektrum warna alam selaras dengan frekuensi jin dan iblis. Pada waktu ini, jin dan iblis amat bertenaga karena mereka beresonansi atau ikut bergetar dengan warna alam.

Bagi Anda yang sedang dalam perjalanan, sebaiknya berhenti sejenak dan mengerjakan shalat maghrib. Hal itu lebih baik dan lebih aman karena pada waktu ini banyak interferens atau tumpang tindihnya dua atau lebih gelombang yang berfrekuensi sama atau hampir sama dan dapat menimbulkan fatamorgana yang dapat merusak penglihatan kita.

Isya


Sedangkan ketika waktu isya’, alam berubah menjadi nila dan selanjutnya menjadi gelap. Waktu isya’ menyimpan rahasia ketenteraman dan kedamaian yang frekuensinya sesuai dengan sistem kontrol otak. Mereka yang kerap ketinggalan waktu isya’ akan sering merasa gelisah. Ketika alam diselimuti kegelapan, kita dianjurkan untuk mengistirahatkan jiwa dan raga.

Dengan tidur waktu itu, kondisi jiwa kita berada pada gelombang delta dengan frekuensi di bawah 4 Hz dan seluruh sistem tubuh memasuki waktu istirahat.

Shalat Malam


Selepas tengah malam, alam mulai bersinar kembali dengan warna putih, merah jambu, dan kemudian ungu. Perubahan warna ini selaras dengan frekuensi kelenjar pineal (otak kecil), kelenjar pituitary (bawah otak), thalamus, dan hypothalamus. Maka, kita sepatutnya bangun dari tidur pada waktu ini dan mengerjakan shalat malam.

Demikian beberapa rahasia shalat dan perubahan warna alam, semoga menambah wawasan dan Anda menjadi makintau. Semoga bermanfaat bagi kita semua.
Another Web of Mine  

www.hilfans.wordpress.com www.hilfan-s.blogspot.com
www.hilfans.blogdetik.com www.hilfans.tumblr.com
www.hilfans.edublogs.org www.hilfan-s.livejournal.com
www.soeltansyah.blog.com www.hilfanss.blog.com

***
www.hilfan.staff.telkomuniversity.ac.id
www.hilfans.staff.telkomuniversity.ac.id www.rnd.is.telkomuniversity.ac.id
www.sci.telkomuniversity.ac.id www.telkomuniversity.ac.id 
www.telkomuniversity.academia.edu

***
www.kuningmas-autocare.co.id www.askaf.or.id 
www.askaf.co.id www.profesorjaket.co.id
www.nat.biz.id www.mombaykid.co.id 
*** 

Thursday, November 21, 2013

10 Sebab Shalat Tidak Diterima



Terdapat Hadis Rasulullah saw juga mengatakan bahwa terdapat 10 golongan manusia yang shalatnya tidak diterima oleh Allah SWT iaitu :

1. Orang lelaki yang shalat sendirian tanpa membaca sesuatu.

2. Orang lelaki yang mengerjakan shalat tetapi tidak mengeluarkan zakat.

3. Orang lelaki yang minum arak tanpa meninggalkannya(taubat).

4. Orang lelaki yang menjadi imam padahal orang yang menjadi makmum membencinya.

5. Anak lelaki yang melarikan diri dari rumah tanpa izin kedua ibu bapanya.

6. Orang perempuan yang suaminya marah/menegur kepadanya lalu si isteri memberontak.

7. Imam atau pemimpin yang sombong dan zalim serta angkara.

8. Orang perempuan yang tidak menutup aurat.

9. Orang yang suka makan riba.

10. Orang yang shalatnya tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan yang keji dan mungkar.

(HR Bukhari dan Muslim). Kitab (Tabyinul Mahaarim).

Sabda Rasulullah saw yang bermaksud: “Siapa yang memelihara shalat, maka shalat itu petunjuk dan jalan selamat dan barang siapa yang tidak memelihara shalat maka sesungguhnya shalat itu tidak menjadi cahaya dan juga tidak menjadi petunjuk dan jalan selamat baginya”.

 

Semoga dibaca, didoakan, dan diaminkan. Sehingga terkabul. InshaAllah.

Ya ALLAH...

✔ Muliakanlah orang yang membaca tausiah ini
✔ Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar.
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang membaca tausiah ini.

 

Dari status Pak Yusuf Mansyur di FPnya.

Monday, August 6, 2012

Beberapa Kesalahan dalam Sholat

At Tauhid edisi VII/48

 

Oleh: Rizki Amipon Dasa

Segala puji bagi Allah ta’ala , semoga shalawat dan salam terlimpahkan pada tauladan kita Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau dengan baik. Amma ba’du.

Shalat merupakan ibadah yang agung. Di antara bukti keagungannya adalah Allah sendiri yang langsung menyampaikan kewajiban shalat kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam peristiwa isra’ mi’raj. Shalat merupakan penyejuk hati Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau senantiasa berpesan pada umatnya untuk menjaga shalat. Karena agungnya ibadah  ini, maka hendaknya seorang muslim perhatian terhadapnya dan waspada terhadap praktek-praktek yang keliru dalam  shalat, karena praktek yang keliru dalam shalat bisa merusak kesempurnaan shalat atau bahkan membatalkannya. Dalam pembahasan kali ini kami sampaikan beberapa kekeliruan yang sering dilakukan ketika shalat dalam rangka saling menasihati dalam kebenaran.

Mengeraskan Bacaan Niat

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata, “Adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat dengan takbir (yaitu takbiratul ihram).” (HR. Muslim)

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma beliau berkata, ”Aku melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam membuka dengan bacaan takbir dalam shalat, kemudian beliau mengangkat kedua tangannya.” (HR. Bukhari)

Dalil di atas dan banyak dalil lainnya yang shahih dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan bahwa shalat dibuka dengan takbir (yaitu takbiratul ihram) dan sebelumnya beliau tidak membaca apa pun.

Al Qadhi Abu Rabi’ Sulaiman bin Umar Asy Syafi’i berkata, ”Mengeraskan niat dan bacaan Al Qur’an di belakang imam bukanlah termasuk sunnah, bahkan merupakan suatu hal yang makruh (dibenci), dan jika sampai mengganggu orang lain yang sholat maka menjadi haram. Barangsiapa yang mengatakan bahwa mengeraskan lafadz niat termasuk sunnah, maka dia telah keliru, dan tidak boleh baginya dan orang selainnya untuk berbicara tentang agama Allah ta’ala dengan tanpa ilmu.”

Abu Abdillah Muhammad bin Al Qashim At Tunisi mengatakan, ”Niat merupakan amalan hati. Melafadzkannya dengan keras merupakan perbuatan yang mengada-ada yang tidak pernah diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, selain itu juga bisa mengganggu orang lain.”

Abu Abdillah Az Zubairi, salah seorang ulama dari kalangan madzhab Syafi’i telah melakukan kekeliruan dimana beliau mengeluarkan statement bahwa diantara pendapat Imam Asy Syafi’i adalah wajibnya melafadzkan niat dalam sholat. Sebab kekeliruan beliau adalah salah paham terhadap perkataan Imam Asy Syafi’i. Perkataan Imam Asy Syafi’i yang dimaksud adalah ketika beliau berkata, “Ketika seseorang berniat untuk haji dan umrah maka itu sah meski dia tidak melafadzkannya, dan ini tidak sebagaimana shalat, maka shalat tidak sah kecuali dengan diucapkan.”

Imam An Nawawi berkata, ”Para ulama kami (yaitu ulama madzhab Syafi’i) mengatakan: “Orang yang mengatakan bahwa wajib melafadzkan niat dalam shalat (yaitu Abu Abdillah Az Zubairi) telah melakukan kekeliruan. Dan bukanlah yang dimaksudkan oleh Imam Syafi’i dengan perkataan beliau  “…maka shalat tidak sah kecuali dengan diucapkan” adalah wajibnya melafadzkan niat. Namun, yang beliau maksudkan adalah takbir (yaitu takbiratul ihram).” (Al Majmu’ 3/243, karya An Nawawi)

Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi mengatakan, ”Tidak ada seorang pun dari kalangan imam madzhab yang empat, tidak Asy Syafi’i, dan tidak pula yang lainnya yang mengatakan disyaratkannya melafadzkan niat. Tempat niat adalah di hati berdasarkan kesepakatan mereka. Akan tetapi sebagian ulama belakangan mewajibkan melafadzkan niat dan mengklaimnya sebagai salah satu pendapat imam Asy Syafi’i. Imam An Nawawi mengatakan, ”Orang yang mewajibkan melafadzkan niat adalah keliru.” (Al Ittiba’ hal.62)

Tidak Membaca dengan Lisan ketika Takbir, Membaca Surat, dan Dzikir

Tidak membaca dengan lisan ketika takbir, membaca surat, dan dzikir-dzikir sholat yang lain dan mencukupkan diri dengan membaca dalam hati merupakan sebuah kekeliruan. Orang yang melakukannya seolah-olah menganggap bahwa shalat hanyalah perbuatan anggota badan yang tidak ada ucapan lisan maupun dzikir sama sekali. Padahal membaca dengan lisan merupakan sebuah hal yang wajib dalam shalat menurut para ulama dan para shahabat Nabi radhiallahu‘anhum.

Seandainya membaca dalam hati adalah sah dalam sholat, maka Nabi tidak mungkin akan bersabda kepada seseorang yang praktek sholatnya belum benar, “… kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu.” Karena yang namanya “al qira’ah” (bacaan) bukanlah bacaan dalam hati. Dan diantara konsekuensi dari “al qira’ah” – ditinjau dari sisi bahasa Arab dan sisi syari’at- adalah menggerakkan lisan sebagaimana yang telah diketahui. Diantara hal yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah ta’ala, ”Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca Al Qur’an karena hendak cepat-cepat menguasainya.” (QS. Al Qiyamah 16)

Oleh karena itulah para ulama yang berpendapat bahwa orang yang junub dilarang membaca Al Qur’an, mereka membolehkan membaca ayat dalam hati ketika junub, karena membaca dalam hati bukanlah “al qira’ah” (bacaan).

Memejamkan Mata Ketika Shalat

Ibnul Qayyim mengatakan, ”Bukanlah termasuk petunjuk Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memejamkan kedua mata beliau ketika shalat. Dan telah berlalu penjelasan bahwa ketika tasyahud beliau mengarahkan pandangannya ke jari-jari beliau dalam doa, dan pandangan beliau tidak lepas dari isyarat beliau (yaitu isyarat dengan telunjuk ketika tasyahud).”

Para ahli fiqih berbeda pendapat tentang status makruhnya  memejamkan mata dalam shalat. Imam Ahmad dan ulama yang lain menilainya sebagai suatu hal yag makruh, mereka mengatakan, ”Itu adalah perbuatan orang Yahudi.” Sejumlah ulama yang lain menilainya sebagai hal yang mubah dan tidak makruh, mereka mengatakan,” Terkadang hal tersebut lebih bisa membantu tercapainya kekhusyukan yang merupakan ruh shalat dan inti shalat.”

Pendapat yang lebih tepat adalah jika membuka mata tidak menyebabkan terganggunya kekhusyukan maka membuka mata lebih utama. Akan tetapi jika membuka mata bisa menghalangi antara orang tersebut dengan kekhusyukan, semisal karena di arah kiblat terdapat hiasan dan lainnya yang mengganggu konsentrasi hatinya maka dalam keadaan ini menutup mata dalam shalat tidaklah makruh.

Tidak Tuma’ninah dalam Shalat

Dari Zaid bin Wahb beliau mengatakan, “ Hudzaifah melihat seorang laki-laki yang tidak menyempurnakan  ruku’ dan sujudnya. Beliau berkata: “Engkau tidaklah shalat. Seandainya engkau mati, maka engkau mati dalam keadaan tidak di atas fithrah yang Allah fithrahkan kepada Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari)

Atsar di atas menunjukkan wajibnya tuma’ninah dalam ruku’ dan sujud, dan cacat pada dua hal tersebut merupakan pembatal shalat karena Hudzaifah mengatakan, “Engkau tidaklah shalat.” Hal ini semisal dengan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada seseorang yang belum benar shalatnya sebagaimana hadits berikut ini.

Dari Abu Hurairah radhiallahu‘anhu beliau mengatakan, ”Sesungguhnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam masuk masjid kemudian masuklah seorang laki-laki  kemudian shalat. Kemudian dia datang dan mengucapkan salam pada Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam. Maka Nabi menjawab salamnya dan bersabda: “Kembalilah, dan sholatlah, karena sesungguhnya engkau belum sholat.” Kejadian ini berlangsung tiga kali. Maka laki-laki tersebut mengatakan: ” Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa shalat lebih baik dari shalatku ini. Maka ajarilah aku.” Nabi bersabda: “Jika engkau hendak shalat,  sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah ke arah kiblat, kemudian bertakbirlah. Lalu bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu. Kemudian ruku’lah sampai engkau tuma’ninah dalam ruku’mu. Kemudian bangkitlah sampai engkau i’tidal dalam keadaan berdiri. Kemudian sujudlah sampai engkau tuma’ninah dalam sujudmu, kemudian bangkitlah sampai engkau tuma’ninah dalam dudukmu. Kemudian sujudlah sampai engkau tuma’ninah dalam sujudmu. Kemudian lakukanlah hal tadi dalam seluruh shalatmu.” (HR. Bukhari)

Hadits di atas merupakan dalil wajibnya tuma’ninah. Barangsiapa meninggalkannya maka ia tidak melaksanakan apa yang diperintahkan padanya, dan statusnya masih sebagai orang yang dituntut untuk melakukan perintah tersebut.

Para ulama mengatakan, ”Tidaklah sah ruku’, sujud, berdiri setelah ruku, tidak pula duduk antara dua sujud sampai orang tersebut i’tidal (proporsional) dalam ruku’, berdiri setelah ruku’, sujud dan duduknya.” Dan ini merupakan pendapat yang shahih yang terdapat dalam atsar, dan inilah pendapat jumhur ulama dan para ulama peneliti. (Tafsir Al Qurtubi 11/124-125)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang shalat dalam keadaan cepat sekali sehingga seperti mematuk dalam gerakan shalatnya. Rasulullah shalallahu ‘alihi wa sallam bersabda, “Itu adalah shalatnya orang munafik, (yaitu) seseorang duduk mengintai-intai matahari, sampai ketika matahari berada diantara dua tanduk setan, maka dia berdiri kemudian mematuk (dalam shalatnya) sebanyak empat rakaat, dia tidak berdzikir pada Allah kecuali sedikit.” (HR. Muslim)

Keadaan orang yang mematuk dalam shalatnya adalah sebagaimana yang bisa kita saksikan pada sebagian orang yang shalat. Sebagian orang melakukan rukun-rukun shalat secepat anak panah, tidaklah lebih dari ucapan “Allahu Akbar” dalam ruku’ dan sujudnya dan ia melakukannya dengan sangat cepat. Hampir- hampir sujudnya mendahului ruku’nya, dan ruku’nya mendahului bacaan suratnya . Dan tidak jarang  ada orang yang menganggap bahwa bacaan tasbih dalam ruku’ dan sujud lebih utama dibaca sekali daripada tiga kali. Dan ini merupakan sebuah hal yang keliru.

Demikian pembahasan kali ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. Marilah kita senantiasa memperbaiki amal ibadah kita dengan meninggalkan apa yang kita ketahui itu keliru dan mengamalkan apa yang menjadi ajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

[Diringkas dan diterjemahkan oleh Rizki Amipon Dasa dari Al Qaul Al Mubiin fi Akhtha’il Mushalliin karya Syaikh Masyhur Hasan Salman]

 

Beberapa Kesalahan dalam Sholat, Sumber : http://url.stisitelkom.ac.id/37845

Friday, August 3, 2012

Pentingnya Mengerti Arti Bacaan Shalat

Posted by  • 30/04/2012


Jangan lupa membagikan artikel ini setelah membacanya



Dari pandangan ilmu fiqih, paham tidaknya seseorang atas bacaan shalatnya sama sekali tidak ada kaitannya dengan sah tidaknya shalat yang dia lakukan. Artinya, memahami arti bacaan shalat tidak termasuk rukun shalat, juga tidak termasuk syarat sahnya shalat, sehingga asalkan bacaannya benar, maka kewajibannya terhadap shalat tersebut telah terpenuhi.

Namun, alangkah rugi dan asingnya seseorang yang shalat tapi tidak paham apa yang diucapkannya. Sebab shalat itu sendiri adalah sebuah dialog antara seorang hamba dengan Rabbnya. Itulah barangkali salah satu faktor mengapa banyak shalat kita yang lakukan ini terasa kurang khusyu' dan kurang membekas. Karena mulut kita komat-kamit mengucapkan hal yang tidak kita fahami, hal ini membuat pikiran kita menjadi mudah teralihkan oleh urusan remeh duniawi.

Selain itu, barangkali ini juga yang menyebabkan seringkali kita berperilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam, meski kita sering shalat 5 waktu. Ternyata shalat yang kita lakukan itu tanpa makna, karena shalat kita hanya sekedar kegiatan rutin yang minim arti.

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendekati (mengerjakan) shalat sedang kalian dalam keadaan mabuk, sehingga kalian mengetahui (menyadari) apa-apa yang kalian katakan.” (QS An-Nisa’: 43)

Pada ayat ini, selain ada larangan mengerjakan shalat dalam keadaan mabuk, juga ada isyarat untuk mengetahui (mengerti) akan apa-apa yang kita ucapkan.

Tulisan ini bukan untuk mengerdilkan usaha para Muslim di luaran sana yang telah berusaha untuk mengerjakan shalat 5 waktu. Namun, sangat tidak ada ruginya, bila kita juga meluangkan waktu untuk mempelajari apa arti bacaan shalat, agar shalat kita lebih bermakna dan membekas.

Wallahu 'alam. Semoga bermanfaat.

 

Sumber : http://url.stisitelkom.ac.id/33377

 

Pentingnya Mengerti Arti Bacaan Shalat