Strategi Media Syiah dalam Memainkan Isu Palestina: Antara Citra Pejuang dan Panggung Pengalihan
Ketika kita melihat berita dari media pro-Syiah seperti Al-Mayadeen (Lebanon), PressTV (Iran), atau kanal milik Hezbollah, kita akan disuguhkan narasi penuh semangat tentang perjuangan melawan Zionisme, pembelaan terhadap Palestina, dan perlawanan terhadap hegemoni barat.
Tapi, benarkah itu semua murni perjuangan? Ataukah ada kalkulasi politik, branding ideologis, dan rekayasa opini publik?
Mari kita kupas satu per satu.
🎯 1. Menciptakan Citra “Front Perlawanan”
Media pro-Syiah gencar mempopulerkan istilah "muqawamah" (perlawanan) sebagai label eksklusif untuk:
-
Iran
-
Hezbollah (Libanon)
-
Hamas (meski Hamas Sunni, tapi pernah didekati Iran)
-
Kelompok milisi Syiah di Irak dan Suriah
Tujuannya adalah membentuk opini bahwa hanya kelompok inilah yang benar-benar berjuang untuk Palestina, sementara negara-negara Sunni disebut lemah, pengecut, atau bahkan sekutu Israel.
💡 Strategi ini berhasil membungkus kepentingan politik dengan jubah religius dan perjuangan.
📰 2. Overekspos Isu Palestina, Sembunyikan Kekejaman Internal
Media pro-Syiah akan sangat vokal memberitakan:
-
Serangan Israel ke Gaza
-
Kejahatan tentara Zionis
-
Dukungan senjata Iran ke kelompok perlawanan
Tapi mereka hampir tidak pernah membahas:
-
Pembantaian warga Sunni oleh rezim Assad di Suriah
-
Penindasan terhadap oposisi Syiah sendiri di Iran
-
Diskriminasi terhadap rakyat Irak dan Yaman oleh milisi Syiah
👉 Artinya, isu Palestina digunakan sebagai tameng moral untuk menutupi kebrutalan sendiri. “Lihat kami lawan Israel” → “Lupakan apa yang kami lakukan ke sesama Muslim.”
📡 3. Narasi Anti-Zionisme Tanpa Anti-Yahudi
Menariknya, media Syiah sangat hati-hati membedakan antara Yahudi dan Zionis.
“Kami tidak benci orang Yahudi, kami hanya lawan Zionisme.”
Meskipun ini terdengar bijak, di balik itu ada kepentingan menjaga hubungan internal dengan komunitas Yahudi di Iran, bahkan dalam bisnis dan politik.
Bahkan sinagoga-sinagoga di Teheran dilindungi negara, sementara rakyat Sunni di Iran hidup dalam tekanan dan pengawasan ketat.
🎥 4. Panggung Media Global: Membentuk Opini Dunia
PressTV milik Iran disiarkan dalam bahasa Inggris dan digunakan sebagai alat diplomasi internasional. Mereka mengisi ruang media dunia dengan narasi:
-
Bahwa Iran-lah satu-satunya pembela Palestina sejati
-
Bahwa Israel adalah boneka AS
-
Bahwa dunia Sunni sudah tunduk pada Barat
Padahal, faktanya tidak sesederhana itu. Banyak negara Sunni yang juga membantu Palestina secara logistik dan kemanusiaan, hanya saja tidak seekspresif retorika Syiah.
🧠 Kesimpulan: Palestina Dijadikan Alat, Bukan Tujuan?
Meskipun secara kasat mata terlihat bahwa Iran dan kelompok Syiah “berani” menghadapi Israel, kita tak boleh menutup mata terhadap kemungkinan bahwa isu Palestina sedang dijadikan alat legitimasi kekuasaan dan pengaruh.
Karena jika benar-benar tulus membela Palestina:
-
Mengapa mereka diam saat rakyat Palestina Sunni dibunuh di Suriah?
-
Mengapa justru mereka bersekutu dengan rezim-rezim penindas di kawasan?
-
Mengapa komunitas Yahudi di Iran dilindungi penuh, bahkan punya kursi di parlemen?
Saatnya Melek, Bukan Mewek
Isu Palestina bukan milik kelompok tertentu. Bukan monopoli Syiah, bukan juga eksklusif milik Sunni. Ini isu umat, yang harus diperjuangkan tanpa embel-embel kepentingan politik dan pecah-belah.
Tugas kita bukan hanya ikut euforia, tapi menggali lebih dalam siapa yang benar-benar berjuang dan siapa yang hanya cari panggung.


Comments