Orang pintar sering bikin keputusan bodoh karena gagal memahami sistem yang sedang mereka ubah
Dalam bukunya The Fifth Discipline, Peter Senge mengungkap bahwa 70 persen kegagalan organisasi modern bukan karena kurangnya niat baik atau kepemimpinan yang buruk, melainkan karena ketidaktahuan terhadap bagaimana sistem bekerja. Banyak keputusan diambil hanya berdasarkan gejala, bukan akar masalah. Akibatnya, solusi jangka pendek justru memperparah masalah dalam jangka panjang.
Saat AC kantor rusak, teknisi mematikan listrik. Semua lega. Padahal, itu cuma jeda sementara. AC tetap rusak.
Saat perusahaan menghadapi penurunan penjualan, atasan langsung potong anggaran. Target naik, tekanan naik, karyawan resign.
Dalam kehidupan pribadi pun begitu. Berat badan naik, orang langsung diet ekstrem. Lapar, stres, lalu gagal lagi.
Masalahnya bukan sekadar tidak tahu apa yang harus dilakukan. Masalahnya adalah gagal memahami bahwa setiap tindakan kita ada dalam sistem yang saling terkait. Dan sistem, kata Peter Senge, punya pola, bukan sekadar peristiwa acak. Maka, kalau ingin mengubah hasil, jangan cuma ubah tindakan. Ubah cara berpikir tentang sistemnya.
Apa itu Berpikir Sistematis menurut Senge
Dalam The Fifth Discipline, Senge menyebut systems thinking sebagai disiplin kelima yang mengikat empat disiplin lain: pembelajaran pribadi, model mental, visi bersama, dan pembelajaran tim. Tanpa pola pikir sistemik, semua tindakan akan terjebak dalam logika tambal-sulam.
Senge mengajarkan bahwa sistem tidak linier. Tidak selalu “A menyebabkan B”. Bisa jadi “A menyebabkan B, tapi B memperkuat A”. Ini disebut reinforcing loop atau umpan balik penguat. Misalnya, dalam dunia kerja: makin stres, makin banyak kesalahan, makin dimarahi, makin stres. Dan siklus itu terus berputar.
Contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari
1. Seorang manajer yang menekan tim agar bekerja lebih cepat, mengabaikan pelatihan karena dianggap buang waktu. Hasilnya: kesalahan meningkat, pelanggan komplain, manajer tambah stres, dan akhirnya menyalahkan tim. Senge menyebut ini sebagai shifting the burden yaitu solusi instan yang mengalihkan perhatian dari akar masalah.
2. Dalam pendidikan, siswa yang kesulitan matematika malah diberi lebih banyak PR, bukan diajak memahami konsep dasarnya. Akhirnya, siswa tambah benci belajar, dan guru frustasi karena merasa muridnya malas. Padahal sistem belajarnya yang salah.
3. Di organisasi, budaya tidak terbuka dikira bisa diatasi dengan satu-dua workshop. Padahal kepercayaan dibentuk bertahun-tahun oleh struktur hierarkis, hukuman diam-diam, dan absennya ruang dialog. Menyembuhkan sistem seperti ini butuh pendekatan jangka panjang, bukan seminar 3 jam.
Mengapa kebanyakan orang gagal berpikir sistematis
Karena manusia lebih mudah fokus pada peristiwa daripada pola. Kita suka cari kambing hitam, bukan akar masalah. Kita reaktif, bukan reflektif. Padahal sistem yang kita jalani hari ini adalah hasil dari keputusan-keputusan kecil yang terakumulasi dari masa lalu.
Berpikir sistematis itu tidak membuatmu terlihat cepat. Tapi membuat dampakmu tahan lama.
Berpikir sistematis bukan soal mempersulit hal sederhana. Justru ini tentang menyederhanakan yang kompleks dengan cara yang benar. Peter Senge mengajarkan bahwa sistem selalu memberi sinyal. Kita hanya perlu melatih diri membaca polanya sebelum terlambat.
Jadi, apakah kamu sedang memecahkan masalah atau hanya menunda ledakan yang lebih besar
Coba tulis di komentar, kebiasaan atau keputusan apa yang menurutmu selama ini justru memperparah masalah yang ingin kamu atasi. Ajak temanmu yang sedang kerja mati-matian tapi hasilnya tetap sama untuk membaca ini. Bisa jadi, mereka butuh berpikir sistematis, bukan kerja lebih keras.



Comments