Makna “tabarruk ke makam” dipahami ditengah umat islam
Pertanyaan ini menyentuh inti perbedaan makna “tabarruk ke makam” di tengah umat. Jawabannya perlu dibedakan secara jernih, agar tidak terjadi silang paham antara istilah ilmiah ulama dan praktik di lapangan. Kita buka perlahan, satu demi satu.
1. Apa arti tabarruk secara bahasa dan istilah?
Tabarruk (التبرك) berasal dari barakah (البركة):
mencari, berharap, atau mengharap tambahan kebaikan dari Allah.
➡️ Barakah hanya dari Allah, bukan dari makhluk.
Namun barakah bisa Allah kaitkan dengan:
orang saleh
tempat tertentu
waktu tertentu
amal tertentu
Sebagaimana Allah mengaitkan barakah pada:
Ka‘bah
Masjid Nabawi
Zaman Nabi ﷺ
air Zamzam
2. Dalam literatur Ahlussunnah: apa maksud “tabarruk ke makam”?
Dalam kitab-kitab klasik Ahlussunnah, tabarruk ke makam umumnya bermakna:
✅ Berdoa kepada Allah di sisi makam orang saleh
dengan keyakinan:
doa tetap ditujukan hanya kepada Allah
keberadaan orang saleh menjadi sebab dikabulkannya doa, bukan sumber doa
Ini masuk kategori:
الدعاء عند القبور لا الدعاء للقبور
“Berdoa di sisi kubur, bukan kepada kubur.”
3. Bentuk-bentuk yang DIMAKSUD ulama (umumnya)
Yang biasanya dimaksud oleh ulama ketika menyebut “tabarruk ke makam”:
Mendoakan mayit
Ini ijma‘ (disepakati).
Berdoa kepada Allah di tempat tersebut
dengan harapan Allah mengabulkan doa karena:
tempat itu
orang saleh yang dikuburkan
Mengambil pelajaran dan mengingat akhirat
Mengucapkan salam kepada ahli kubur
sebagaimana sunnah Nabi ﷺ
Semua ini:
tidak menyebut mayit sebagai pemberi manfaat
tidak meminta kepada mayit
tidak meyakini mayit memiliki kekuatan mandiri
4. Lalu, apakah ada praktik lain yang terjadi di kuburan?
📌 Inilah sumber konflik utama.
Di lapangan, istilah “tabarruk” kadang dipakai untuk praktik yang jauh melampaui definisi ulama, seperti:
❌ meminta langsung kepada mayit
❌ meyakini mayit mengabulkan hajat
❌ mengusap kubur untuk mengambil “energi”
❌ bernazar kepada penghuni kubur
❌ melempar sesaji
❌ menyebut nama wali sebagai tujuan doa
❌ keyakinan “kalau tidak lewat wali, doa tidak sampai”
👉 Ini BUKAN yang dimaksud oleh para imam Ahlussunnah klasik, dan inilah yang dikritik oleh banyak ulama lintas mazhab.
5. Kenapa terjadi kekacauan istilah?
Karena satu istilah dipakai untuk dua hal berbeda:
| Istilah | Maksud Ulama | Praktik di Lapangan |
|---|---|---|
| Tabarruk | Doa kepada Allah di sisi makam | Kadang doa ke makam |
| Tawassul | Menyebut kemuliaan orang saleh | Kadang memanggil ruh |
| Ziarah kubur | Ibrah & doa | Kadang ritual khusus |
➡️ Akibatnya, orang yang menolak praktik menyimpang dianggap “anti ulama”,
padahal yang ditolak adalah penyimpangannya, bukan ziarahnya.
6. Apakah para sahabat melakukan tabarruk ke kubur Nabi ﷺ?
✔️ Para sahabat berziarah dan mendoakan Nabi ﷺ
❌ Tidak ada riwayat sahih mereka meminta kepada Nabi setelah wafat
Bahkan:
Umar bin Khattab tidak bertawassul ke kubur Nabi,
tapi bertawassul dengan Abbas yang masih hidup (HR. Bukhari).
Ini menunjukkan:
kehati-hatian sahabat agar tidak membuka pintu kesyirikan, meski niat baik.
7. Ringkasannya (inti jawaban)
Tabarruk ke makam menurut ulama Ahlussunnah:
✅ berdoa kepada Allah
✅ mendoakan mayit
✅ mengambil ibrah
✅ salam dan adab ziarah
Bukan:
❌ meminta kepada mayit
❌ meyakini mayit mengatur takdir
❌ ritual fisik tanpa dalil
❌ keyakinan mistis pada kuburan
8. Penutup
Perdebatan ini bukan soal cinta wali atau Nabi,
melainkan menjaga tauhid agar tetap jernih.
Niat baik tidak menghalalkan cara,
dan kecintaan sejati kepada orang saleh adalah:
mengikuti tauhid yang mereka ajarkan,
bukan ritual yang mereka tidak pernah contohkan.

Comments